PELAYANAN GMI DI PULAU NIAS
“Suatu visi dan missi GMI Distrik Mission Wil.I di Nias”
Oleh: DS Pdt.T.M.Karo-karo,STh
Sesuai dengan keputusan konperensi Tahunan GMI Wilayah I pada bulan Juli 2007 di Parapat ditetapkan bahwa Distrik 5 Wil.I dimekarkan menjadi 2 Distrik yakni Distrik 5 dan Distrik Mission yang mempunyai daerah pelayanan: Pulau Nias dan tiga Resort di Pulau Sumatera yakni: resort Sibolga, resort Padang Sidempuan, dan resort Barus.
Melihat situsi di Distrik yang baru ini terutama di daerah Nias, masih terbuka kemungkinan GMI mengembangkan sayapnya. Karena sampai sekarang GMI baru hadir Kabupaten Nias selatan, ada 17 Jemaat dan Pos PI GMI dan akan terus menambah Pos PI yang baru.
Pada tanggal 10 dan 11 November 2007 yang lewat, Distrik yang baru ini mengadakan Konperensi Distrik yang perdana dan sekaligus pembinaan majelis. Melalui kondis tersebut terpilihlah pengurus Distrik yang perdana dan kondis tersebut berusaha melihat kebutuhan-kebutuhan yang mendesak dalam waktu dekat demi pembinaan dan pekembangan GMI di Distrik yang baru ini. Adapun program rencana kerja dalam waktu dekat adalah sebagai berikut:
1. Menterjemahkan Nyanyian Rohani, Buku Ibadah ke dalam Bahasa Nias
Sampai sekarang belum ada buku nyanyian Rohani GMI berbahasa Nias, selama ini nyanyian yang dipakai “Buku Zinuno” BNKP, tetapi oleh karena ada perasaan malu maka sebagaian jemaat sudah memakai Nyanyian Rohani Bahasa Indonesia, tetapi masalahnya adalah sedikit sekali warga jemaat yang bisa berbahasa Indonesia. Oleh karena itu direncanakan pada bulan Agustus 2007 yang akan datang sudah tercetak buku “Zinuno GMI”, dan akan diikuti dengan Buku Ibadah berbahasa Nias
2. Pembinaan-Pembinaan tentang Kemethodisan
Harus diakui sejak berdirinya GMI di Pulau Nias sangat sedikit sekali diadakan pembinaan tentang kemethodisan, padahal umumnya jemaat berasal dari gereja tetangga, sehingga sampai saat ini pengaruhnya sangat besar baik di dalam dogma maupun di dalam struktur keorganisasian. Cara satu-satunya untuk memethodistkan jemaat di sana adalah melalui pembinaan-pembinaan baik terhadap para majelis, lay speaker, maupun secara langsung pembinaan kepada warga jemaat.
3. Pekabaran Injil
Penduduk Pulau Nias terkenal sebagai orang yang memeluk agama Kristen sudah sejak lama, sehingga kalau kita lihat dalam kehidupan di tengah-tengah masyrakat hari-hari besar agama Kristen sangat dihargai. Setiap hari Minggu dapat dipastikan Perekonomian di Pulau Nias otomatis berhenti, angkutan umum tidak ada yang beroperasi, penduduk semua tinggal di rumah saja. Tetapi walaupun demikian, bukan berarti seluruh nadi kehidupan sudah dikuasai oleh kekristenan. Melainkan kekeristenan masih bercampur dengan tradisi dan sistim kepercayaan yang lama. Adat lebih berkuasa dari pada iman Kriten, padahal kegiatan-kegiatan adat banyak sekali bertentangan dengan iman Kristen. Oleh sebab itu pekabaran injil sangat perlu dilakukan di kalangan pendududk Nias, karena kita yakini tidak ada yang bisa merubah manusia secara mendasar selain Injil.
Dalam PI ini strategi kita diarahkan ke tiga daerah: Sementara Nias Selatan masih terus diupayakan untuk terus dijangkau untuk masuk ke setiap kecamatan, dengan goal utama supaya panji-panji GMI berdiri di Kota Teluk dalam sebagai Ibu Kota Kabupaten Nias selatan; di Nias Tengah GMI telah hadir di Hililaza, kecamatan Lolomatua, dan dari gereja ini diupayakan akan menyebar ke Sirombu, Lolowau dan seluruh Nias Tengah. Arah yang ketiga adalah untuk mendirikan GMI di Kota Gunung Sitoli sebagai Pusat kegiatan dan kota terbesar di Pulau Nias, sehingga dari sana diharapkan GMI akan menyebar ke Nias Utara yakni kota Lahewa sekitarnya.
Utuk itu beberapa hal yang perlu dipersiapkan yakni tenaga, dana, doa, dengan ketiga hal ini kita yakini GMI akan jadi berkat di seluruh Pulau Nias yang tercinta ini.
4. Pembangunan Fisik
Dalam menunjang PI tersebut di atas perlu didukung oleh pembangunan fisik yang memadai, gedung gereja baru harus didirikan, rumah pastori, pusat pembinaan (Methodist Centre) dan sarana lainnya. Untuk ini sangat diharapkan dukungan dari para warga GMI seluruhnya terlebih dukungan para donator. Tetapi kami bukan asal menerima tetapi diharapkan setiap dilaksanakan pembangunan gereja harus ada swadaya jemaat setempat paling tidak 1/3 dari dana keseluruhan. Dengan demikian jemaat tidak hanya menerima saja, tetapi juga harus berusaha memberdayakan terlebih dahulu.
5. Pemberdayaan Ekonomi Jemaat/PARPEM
Pada umumnya warga jemaat GMI di Nias adalah penduduk Desa dan termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah. Umumya mereka adalah petani tradisional dan sangat sedikit sekali pegawai negeri. Sistim pertanian mereka sangat tradisional sehingga penghasilan mereka jauh dari pada memadai. Selanjutnya etos kerja mereka juga sangat rendah, akibatnya penghasilan mereka sangat minim. Sejalan dengan situasi ini GMI perlu memberdayakan ekonomi warga jemaat dengan mengadakan pelatihan-pelatihan di bidang pertanian dan peternakan, di samping itu memberikan motivasi-motivasi demi peningkatan etos kerja mereka. Untuk melengkapi ini GMI perlu memberikan bantuan yang bersifat merangsang demi peningkatan ekonomi mereka seperti: bantuan ternak babi, bantuan bibit mahoni, bibit sayur-sayuran dan lain-lain.
6. Pendirian PKMI
Ada dua kota yang menjadi goal dalam pendirian PKMI, yakni Teluk Dalam dan Gunung Sitoli. Kedua kota ini sedang berkembang dan sarana pendidikan yang baik masih kurang, GMI yang terkenal dengan PKMI-nya perlu hadir di sana; apalagi nama GMI sudah cukup terkenal di Pulau Nias ini. Langkah yang pertama untuk merealisasikan ini adalah dengan mendirikan Pos PI GMI di kedua kota ini baru kemudian dilanjutkan mendirikan PKMI tentu saja setelah melakukan studi kelayakan.
Teluk Dalam 21 Maret 2010
DS Pdt. T.M. Karo-karo, STh, MA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar